Husin Alatas

Searching and Serving the Best

 

Posisi Ilmuwan

 

Posisi Ilmuwan*

Sebagian besar dari kita tentunya mengetahui bahwa seekor bebek dapat dengan mudah melewati tanah yang lunak ketimbang seekor ayam. Mengapa demikian? Secara fisika fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep tekanan yang didefinisikan sebagai berat dibagi dengan luas permukaan. Bebek memiliki luas permukaan kaki yang lebih besar dari kaki ayam sehingga tekanan yang diberikannya terhadap tanah lebih kecil.

Jika dianalogikan berat bebek atau ayam sebagai beban hidup yang kita alami sehari hari maka tekanan (baca: stres) yang menghinggapi kita dapat dikendalikan dengan memperluas sesuatu yang secara intrinsik ada dalam diri masing-masing, yaitu hati. Karena luas permukaan secara sederhana merupakan perkalian antara parameter panjang dan lebar maka keluasan hati di sini dapat kita pandang sebagai perkalian antara parameter sabar dan syukur.

Menarik untuk dicatat bahwa nasihat yang biasanya dijumpai dalam ajaran agama ternyata bisa pula kita ambil dari penganalogian fenomena alam di atas. Alam seolah ingin mengajarkan bahwa untuk mengurangi stres akibat beban hidup maka kita harus memperbanyak sabar dan syukur sebagai satu kesatuan yang mewakili keluasan hati.

Jelas hal ini sejalan dengan ajar an agama yang disampaikan, baik secara eks plisit maupun implisit oleh para nabi, bah wa sabar dan syukur adalah dua sifat yang mesti berdampingan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Analogi di atas merupakan satu contoh dari sekian banyak indikasi keselarasan antara ajaran luhur agama yang tertulis dalam teks-teks suci dengan hikmah yang dapat diambil dari fenomena yang “tertulis” di alam sebagai tanda kauniyah kebesaran-Nya. Contoh sederhana lainnya adalah elektron di dalam atom yang hanya berpindah orbit lebih luar dengan menyerap foton cahaya sesuai yang telah ditentukan oleh hukum alam yang mengendalikannya, mengajarkan kepada kita untuk tidak berperilaku koruptif dengan mengambil sesuatu di luar yang telah ditetapkan.

Peran dan karakteristik

Menjelaskan fenomena alam seperti tekanan dan perpindahan elektron adalah ranah pekerjaan ilmuwan. Mereka sejatinya memiliki peran mencari gambaran yang komprehensif, sistematis, dan konsisten mengenai fenomena-fenomena alam. Penting untuk ditekankan bahwa peningkatan kualitas hidup manusia di semua aspek sebagian besar berasal dari kemampuan para ilmuwan dalam membaca fenomena alam dan menjadikannya bagian dari ilmu pengetahuan atau sains untuk kemudian diterapkan ke dalam teknologi.

Proses pencarian pengetahuan baru berbentuk riset ilmiah merupakan jalan yang sulit dan sering kali harus berlangsung dalam kesunyian tanpa gempita penghargaan.

Untuk melakukan riset dengan baik, seorang ilmuwan dituntut memiliki kecerdikan dalam “melihat” fenomena alam secara benar dan itu hanya dapat dicapai melalui kerja keras guna mendapat bekal pengalaman yang mencukupi.

Setelah memperoleh pengetahuan baru, seorang ilmuwan kemudian dituntut secara moral untuk menyebarkan apa yang diperolehnya kepada khalayak, khususnya ilmuwan serumpun. Tuntutan ini dimaksudkan agar pengetahuan baru tersebut dapat diestafetkan pengembangan dan pemanfaatannya oleh ilmuwan lain.

Penyebarluasan hasil riset lazim dilakukan dengan memublikasikannya. Dalam proses publikasi hasil riset tersebut mutlak diperlukan kejujuran pada penyampaiannya. Bahkan, apabila setelah paper dipublikasikan ternyata diketahui ada kesalahan yang tidak disengaja dan luput dari pemeriksaan rekan sejawat, maka secara etika sang ilmuwan diharuskan menerbitkan koreksi atau bahkan menarik paper-nya jika kesalahan yang ditemukan cukup fatal.

Uraian di atas jelas memperlihatkan adanya suatu kesebangunan karakter antara ilmuwan dan para nabi yang memiliki sifat-sifat cerdik, jujur, dapat dipercaya, dan menyebarkan kebenaran. Jika nabi dengan keempat karakteristik tersebut ditugaskan untuk menerima dan menyampaikan wahyu yang bersifat kauliyah maka ilmuwan pun memiliki kewajiban serupa, yakni mencari dan menyampaikan tanda kauniyah yang tersembunyi di alam raya. Lebih dari itu, seorang ilmuwan harus pula memiliki kemampuan tambahan dalam hal mendeteksi kesalahan yang dapat saja dilakukannya, baik ketika melaksanakan maupun menyampaikan hasil riset.

Ilmuwan dengan semua karakter tersebut dapat dipandang juga sebagai pewaris para nabi. Dalam pengertian, merekalah yang memang sejatinya dibebani tugas untuk melakukan pencarian ayat-ayat kauniyah serta melakukan pembuktian bahwa alam ini tidak diciptakan secara sia-sia, tetapi penuh kemanfaatan.

Konteks Indonesia

Melihat kondisi bangsa yang saat ini belum bisa dikatakan berada pada keadaan menggembirakan, tetapi di sisi lain telah terbukti memiliki sumber daya manusia yang tidak kalah kualitas dengan bangsa lain maka sudah sepatutnya ilmuwan yang dimaksud berada pada posisi yang unik dan strategis sebagai komponen utama bangsa. Mereka mempunyai tugas khusus melakukan riset yang berdampak pada terangkatnya harkat dan martabat bangsa.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, harus benar-benar dipahami bahwa tugas ilmuwan dalam pencarian ayat kauniyah kerap menghadapi berbagai macam tantangan keras yang harus dilewati. Oleh karena itu, dukungan yang memadai dalam segala bentuk dari seluruh pihak menjadi sangat diperlukan, termasuk sikap politik terhadap eksistensi mereka harus lebih dipertegas keberpihakannya. Ini dimaksudkan agar tercipta kondisi yang kondusif bagi ilmuwan dalam melaksanakan perjuangan mencari dan memberi yang terbaik.

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2012 dan kali ini bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan 1433 H sudah selayaknya dijadikan sebagai momentum untuk semakin menguatkan semangat dalam mencetak ilmuwan ilmuwan andal pewaris para nabi. Semangat ini harus mampu memberikan.

*Artikel Opini REPUBLIKA, 30 Juli 2012

 

No Responses to “Posisi Ilmuwan”

Comments are closed.

Leave a Reply